PROLOG
"Sirine ambulan itu menjauh dari telinga. Padahal, aku berada di dalam nya. Aku bagai bernafas dalam cangkang. Gelap, pengap dan samar. Tuhan, hidupkan aku ditengah kematian ku. Terdengar tangis dan aku sadar, detak jantung itu berhenti tertelan waktu. "Ibu, aku ikut jangan tinggalkan aku."
Seakan semua berhenti, detik, detak yang ku dengar berhenti bersamaan. Tuhan, berikan aku keikhlasan itu.
****
Aku menceritakan sedikit tentang ku, mungkin makna nya tidak terlalu berarti untuk sebagian orang. Tapi, bagiku ini adalah perjalanan yang benar-benar membawaku pada dewasa yang tak terukur, membuatku hidup kembali setelah aku mati berkali-kali.
Nama ku Anindya, artinya sempurna dan tak bersalah. Begitulah kiranya maksud nenek memberi nama ku anindya. Katanya, agar aku menjadi wanita yang sempurna serta senantiasa berada di posisi yang benar. Aku anak pertama. Mungkin semua teman-teman ku menyebut aku sebagai anak yang penuh dengan ambisi, keras kepala dan mandiri.
Karena, pada kenyataan nya itu adalah branding yang tidak pernah ku ciptakan dengan niat sepenuh hati. Mengalir begitu saja. Aku terlahir di keluarga yang sederhana, kami cukup. Menjadi perempuan periang adalah caraku menutupi semua kelemahan ku. Entah, itu hal yang tepat atau tidak.
Adik ku, Salsa. Dia perempuan yang 180 derajat berbeda dari ku. Tapi, kami sama dalam hal mandiri. Keadaan membawa kami pada kenyataan pahit, saat detak dan detik itu berhenti bersama ibu.
***
Plakkkk! Brukkk!
Suara itu lagi, aku sudah hafal betul bagaimana suara itu terus mengisi hari-hari ku sejak kecil. Aku hafal betuk bagaimana rasanya kekosongan saat aku mendengar suara yang seharusnya tak ku dengar suara yang dapat ku rasakan dalam-dalam.
Aku melihatnya, dan merasakan nya. Ibu, dia lah langganan dimana tangan ayah mendarat dengan penuh amarah. Wajah nya memerah, bukan kaeena ia bahagia tapi karena rasa sakit yang ia tahan. Tangisnya tak lagi terdengar, bukan karena ia kuat, tapi karena airmatanya habis oleh laki-laki yang ia pilih. Aku orangnya, saksi yang selalu membisu, tak pernan ada kalimat yang bisa ku keluarkan, selain tangis dan teriak dalam hati, hanya aku yang dapat mendengarnya.
"Dasar Brengsek! Wanita tidak tahu diuntung" "aaarrggh" (lalu suara itu lagi)
Aku kembali tertidur. Ayah pikir aku tidak tersadar. Tapi, ruangan itu hanya satu petak, hanya berbatas lemari kayu tua, kira-kira usianya sama dengan ku, 25 tahun. Bagi beberapa orang aku sudah cukup matang untuk memisahkan diri dari rumah gelap itu, tapi rasanya salsa adalah alasan terbesarku bertahan.
Jika sudah waktunya aku akan pergi dengan aman, entah membawa salsa bersama ku, atau malah aku hanya pergi sendirian kepangkuan tuhan. Egois rasanya, tapi kurasa kematian lebih meyakinkan ketimbang melanjutkan hidup dengan hati dan rumah yang rusak.
Aku kembali tertidur, pulas. Sekejap, apa yang kulihat dan ku dengar hilang sekejap, tenggelam dalam gelap, redup lalu hilang terbawa nafas yang mulai terlelap. Aku tertidur membawa duka yang masih ku pertanyakan, kenapa ayah melakukan itu?
***
Komentar
Posting Komentar